
Perempuan itu datang ketika hari memasuki draft warna birunya menjelang usai berganti jingga saga.
Wajahnya kuyu dan lelah, menyiratkan beribu dahaga suatu oase yang bersedia untuk menerima segala tumpah ruah kegundahan hatinya selama ini. Aku menyambutnya dengan segelas Cappucino setengah dingin dalam genggaman gelas bertelinga putih.
Tanpa kata pembuka, aku sudah mengerti bahwa ia sedang ingin bercerita kepadaku tentang keresahan mimpi-mimpinya, masa depannya, kegelapan dan debu yang kerap berterbangan mengitari sekelilingnya.
“Kenapa?” Tanyaku menggamit lengan mungilnya halus. Tanpa paksaan aku sabar menungguinya mengurai nafasnya yang tersengal-sengal.
“ Dia selingkuh”
Dahiku sejenak mengernyit sibuk mempertanyakan pada diri sendiri apa arti kata “selingkuh” dalam konteks kalimat seorang perempuan lajang yang mencintai lelaki dalam masa pra pernikahan.
Menurutku itu tak benar sama sekali, ketika dua orang yang masih bebas dikatakan selingkuh. Sebelum ikrar suci di tetapkan di depan yang Maha Hidup manusia bak individu yang lepas bebas memilih apa yang terbaik dalam hidupnya. Rasanya kurang tepat menyebut kata selingkuh pada seorang lelaki yang masih bebas.
Tapi sekali lagi aku hanya diam memandanginya dari sudut mataku. Tak mungkin aku bercerita dengan jujur apa yang menjadi opiniku ditengah kegundahannya. Tak bijak dan tak pantas.
“Kamu lihat sendiri?”
Perempuan itu menggeleng lemah, kemudian ia berkata lirih, “ Naluri..”
Ahhhh….kembali aku mendesah, mengedik dan perlahan beringsut dari pikiran tentang sebuah kata yang disebut”naluri”. Begitu agungkah sebuah Naluri hingga mampu membutakan sebuah fakta menjadi logika yang tak berujung.
Aku tiba-tiba menjadi sangat khawatir dengan keadaannya yang mengisi beragam imaji menari-nari melintasi ruang benaknya membutakan nalurinya, membutakan hatinya, membutakan pemikirannya. Aku takut ia tertelan arus perasaan yang menghalalkan pilunya.
Terus menerus.
“ Kenapa tak mencoba bertanya padanya?”
“ Aku takut…”
“ Aku takut semua bayangan yang mengikutiku akan menjadi kebenaran yang menyakitkan, aku takut ia marah, aku takut ia membenciku, aku takut dia menganggapku perempuan cerewet. Dan yang paling aku takut, dia akan meninggalkan ku”
Perempuan itu menegaskan kata-katanya sembari menangis sesenggukan berulang-ulang. Aku memandanginya penuh rasa iba.
Sebenarnya aku hanya ingin menolak dan menenangkannya bahwa ia memikirkan sesuatu yang sangat salah tentang asumsi asumsi pada lelaki yang belum tentu bersalah dan kemudian memvonisnya dengan ketakutan dan rasa tidak percaya diri yang amat terkikis bahwa dia adalah perempuan yang layak untuk mendapatkan cinta seutuhnya.
Utuh tanpa cela secuilpun.
Cappuccino di tanganku telah benar-benar dingin dan hambar. Tak lagi nikmat untuk diseruput apalagi mampu memberikan kehangatan di tengah senja yang beranjak menggigil. Namun aku tetap dalam pandangan yang tak lepas pada bayangan perempuan dihadapanku.
Perempuan muda yang tengah berdiri di depan cermin.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bukannya sok romantis atau berubah haluan sih. Ceritanya, saya lagi resah dengan blog saya www.itikholic.blogspot.com mau diisi genre apa. Dulu rencananya mau diisi genre tentang cinta. Tapi ternyata saya ngga ahli dalam urusan cinta mencinta. Lalu terfikir, saya punya banyak ide menulis fiksi, rada serius dan romantis..hayah..Kira-kira kalo postingannya tentang Fiksi romantis kaya di atas, keren gak ya??--------------------------------------------------------------------------


Bagaimana Dengan Artikel ini....Silahkan Berkomentar Jika ada Pertanyaan Dan Masukan ^_^