Kalo Udah Ngga Perawan Lagi,

Kalo Udah Ngga Perawan Lagi,

Ngga Perawan Jelas udah ngga perawan


Saya sadar, sewaktu menulis postingan ini saya adalah seorang perempuan muda yang masih harus menempuh perjalanan jauh untuk melanjutkan hidup hingga ke jenjang pernikahan.


Dan saya hanya mampu komat-kamit berdo’a semoga sepanjang perjalanan hidup ini saya selalu dilindungi dan senantiasa diingatkan untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan diri sendiri.
Sebab, kita tak pernah bisa menentukan dengan pasti kejadian apa yang akan menimpa, akan bertemu dengan orang seperti apa dan godaan syaiton apa yang bakalan berbisik di telinga.

Iya lho!

Bersyukur kalo kita bertemu dan punya pacar “orang baik-baik”, yang mampu menjaga kesucian dengan sabar hingga saatnya tiba. Kadang orang baik-baikpun, pacaran yang biasanya baik-baikpun juga bisa tergoda oleh bisikan syaiton yang terkutuk pada saat dan situasi tertentu.

Itulah pentingnya kontrol diri untuk tidak menempatkan diri pada situasi yang menyebabkan godaan itu datang.

Meski tekhnologi kian canggih bisa membuat hymen buatan hingga seorang gadis menjadi perawan lagi, namun tetap saja yang namanya sebuah kejujuran tak mampu dibeli. Apalagi untuk perkawinan seumur hidup, apa tega membohongi suami terus menerus. Yang lebih bikin nyesek pastilah tersiksa karena bohong ama diri sendiri.

Saat jatuh cinta berjuta rasanya seorang perempuan sepintar apapun kadang bisa jadi makhluk bodoh yang dengan sadar dan suka rela menyerahkan “sesuatu” yang menjadi miliknya paling berharga kepada lelaki yang belum tentu menjadi suaminya atau mungkin malah tidak mencintainya atau hanya demi kesenangan semata. Sesuatu yang harusnya dipersembahkan hanya untuk suaminya di saat pernikahan kelak.

Alasannya, “Ini bukti cinta sejati”

Weks…

Ironisnya, bukan hanya kehilangan keperawanan tapi juga hamil diluar nikah dan ndak tahu siapa cowo yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

Bok, susahnya jadi peyeumpuan itu.

Pentingnya keperawanan seolah-olah menggambarkan arogansi cowo dimana cewe musti dituntut selalu sempurna. Padahal kalo memang benar-benar cowo itu mencintai semestinya keperawanan tak dijadikan tolok ukur kesempurnaan seorang cewe. Memang kelihatannya egois banget, tapi itulah takdir perempuan. Sekali ternoda bakal ninggalin jejak untuk selamanya.

Tapi justru disitulah letak esensi menjadi seorang perempuan. Harus mampu menjaga kehormatannya. Kalo udah gak perawan lagi, ibarat gelas yang sudah pecah diperbaiki dengan cara apapun masih aja kliatan retaknya.

Bagaimana Dengan Artikel ini....Silahkan Berkomentar Jika ada Pertanyaan Dan Masukan ^_^